Pertanian tidak hanya menanam makanan untuk manusia dan hewan, tetapi juga menanam hal-hal lain seperti bunga dan tanaman pembibitan, pupuk kandang atau kotoran, kulit hewan (kulit atau bulu), kulit, hewan, jamur, serat (kapas, wol, rami, dan rami), biofuel, dan obat-obatan (biofarmasi, ganja, opium).
Banyak orang yang masih hidup dengan pertanian subsisten, di lahan pertanian kecil. Mereka hanya bisa menanam makanan yang cukup untuk memberi makan petani, keluarga, dan hewan-hewannya. Hasil panen adalah jumlah makanan yang ditanam di atas lahan tertentu, dan seringkali rendah. Hal ini karena petani subsisten umumnya kurang berpendidikan, dan mereka memiliki lebih sedikit uang untuk membeli peralatan. Kekeringan dan masalah-masalah lain kadang-kadang menyebabkan kelaparan. Ketika hasil panen rendah, deforestasi dapat menyediakan lahan baru untuk menanam lebih banyak makanan. Hal ini memberikan lebih banyak nutrisi bagi keluarga petani, tetapi bisa berdampak buruk bagi negara dan lingkungan sekitarnya selama bertahun-tahun.
Di negara-negara kaya, lahan pertanian seringkali lebih sedikit dan lebih besar. Selama abad ke-20, pertanian menjadi lebih produktif karena petani dapat menanam varietas tanaman yang lebih baik, menggunakan lebih banyak pupuk, menggunakan lebih banyak air, dan lebih mudah mengendalikan gulma dan hama. Banyak pertanian juga menggunakan mesin, sehingga lebih sedikit orang yang dapat bertani di lebih banyak lahan. Ada lebih sedikit petani di negara-negara kaya, tetapi para petani mampu menanam lebih banyak.
Pertanian intensif semacam ini memiliki masalah tersendiri. Petani menggunakan banyak pupuk kimia, pestisida (bahan kimia yang membunuh serangga), dan herbisida (bahan kimia yang membunuh gulma). Bahan-bahan kimia ini dapat mencemari tanah atau air. Bahan-bahan kimia ini juga dapat membuat serangga dan gulma lebih kebal terhadap bahan kimia, sehingga menyebabkan wabah hama ini. Tanah dapat rusak karena erosi (tertiup atau terbawa arus), penumpukan garam, atau hilangnya struktur. Irigasi (menambahkan air dari sungai) dapat mencemari air dan menurunkan permukaan air. Masalah-masalah ini semuanya sudah ada solusinya, dan petani muda modern biasanya memiliki pendidikan teknis yang baik.
TEKNIK PERTANIAN
- Pupuk
- Rotasi tanaman
- Penghapusan gulma
- Pembiakan
- Pagar
- Peternakan
- Perkebunan
- Perlindungan tanaman
Petani memilih tanaman dengan hasil panen, rasa, dan nilai gizi yang lebih baik. Mereka juga memilih tanaman yang bisa bertahan dari penyakit tanaman dan kekeringan, serta lebih mudah dipanen. Berabad-abad seleksi dan pemuliaan buatan telah memberikan efek yang sangat besar pada karakteristik tanaman pangan. Tanaman menghasilkan hasil panen yang lebih baik dengan teknik-teknik lain (penggunaan pupuk, pengendalian hama kimiawi, irigasi).
Beberapa perusahaan telah mencari tanaman baru di negara-negara miskin, dan secara genetis memodifikasi tanaman ini untuk memperbaikinya. Mereka kemudian mencoba mematenkan benih dan menjualnya kembali ke negara-negara miskin.
Tanaman baru diciptakan dengan rekayasa genetika. Salah satu contoh rekayasa genetika adalah memodifikasi tanaman untuk melawan herbisida.