Para filsuf mengajukan pertanyaan tentang gagasan (konsep). Mereka mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Beberapa pemikir merasa sangat sulit untuk menemukan kata-kata yang paling baik menggambarkan ide-ide yang mereka miliki. Ketika mereka menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan ini, para filsuf sering memiliki masalah yang sama, yaitu bagaimana cara terbaik untuk memberi tahu jawaban yang mereka temukan kepada orang lain. Tergantung pada arti kata-kata yang mereka gunakan, jawabannya berubah.
Beberapa filsuf adalah pemikir penuh waktu (disebut akademisi), yang bekerja untuk universitas atau perguruan tinggi. Para filsuf ini menulis buku dan artikel tentang filsafat dan mengajar kelas tentang filsafat kepada mahasiswa universitas atau perguruan tinggi.
Filsuf lain hanyalah pemikir "hobi" yang berpikir tentang filsafat selama waktu luang mereka. Sejumlah kecil pemikir hobi telah berpikir begitu banyak tentang filsafat sehingga mereka dapat menulis artikel untuk majalah filsafat. Orang lain mendekati filsafat dari pekerjaan lain. Misalnya, para biksu, seniman, dan ilmuwan mungkin berpikir tentang ide-ide dan pertanyaan filosofis.
Sebagian besar filsuf bekerja dengan mengajukan pertanyaan dan mencari definisi (makna) kata-kata yang baik untuk membantu mereka memahami apa arti sebuah pertanyaan.
Beberapa filsuf mengatakan bahwa satu-satunya hal yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan adalah mencari tahu apa artinya. Satu-satunya hal yang membuat pertanyaan filosofis (seperti di atas) sulit adalah bahwa orang tidak benar-benar tahu apa artinya. Ludwig Wittgenstein percaya ini.
Para filsuf sering menggunakan contoh nyata dan imajiner untuk membuat suatu poin. Misalnya, mereka mungkin menulis tentang orang yang nyata atau fiksi untuk menunjukkan seperti apa orang baik atau orang jahat menurut mereka.
Beberapa filsuf mencari cara paling sederhana untuk menjawab pertanyaan dan mengatakan bahwa itu mungkin jawaban yang benar. Ini adalah proses yang disebut pisau cukur Occam. Yang lain percaya bahwa jawaban yang rumit untuk pertanyaan juga bisa benar. Untuk contoh masalah filosofis, lihat paradoks Tuhan.
Para filsuf menggunakan logika untuk memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan. Konsistensi logis adalah landasan dari setiap teori yang dapat diterima. Filsuf yang tidak setuju dengan suatu teori akan sering mencoba menemukan kontradiksi logis dalam suatu teori. Jika mereka menemukan kontradiksi, ini memberi mereka alasan untuk menolak teori itu. Jika mereka tidak menemukan ketidakkonsistenan, filsuf mungkin menunjukkan bahwa teori tersebut mengarah pada kesimpulan yang tidak dapat diterima atau konyol. Pendekatan kedua ini biasanya disebut reductio ad absurdum.