Ritme sirkadian adalah ritme yang berulang setiap 24 jam. Tumbuhan dan hewan memiliki siklus bawaan yang memungkinkan mereka untuk berbunga pada waktu yang tepat, tidur pada waktu yang tepat, dll. Kata "sirkadian" berasal dari bahasa Latin circa, "sekitar", dan diem atau dies, "hari", yang berarti "sekitar satu hari". Studi tentang ritme penjagaan waktu biologis seperti ritme harian, pasang surut, mingguan, musiman, dan tahunan, disebut kronobiologi.
Ritme sirkadian adalah "built-in" sehingga, tanpa sinyal waktu dari lingkungan, mereka menjaga waktu pada tingkat periode sekitar 24 jam. Ketika berada dalam kegelapan total, tumbuhan dan hewan terus berperilaku sesuai dengan periode bawaan, yaitu sekitar 24 jam. Ritme juga terpengaruh dan diatur ulang oleh sinyal waktu seperti siang hari dan panjang siang dan malam. Adalah penting bahwa ritme diatur ulang secara teratur ke siklus terang/gelap alami. Manusia dewasa dari segala usia memiliki ritme sirkadian yang rata-rata 24 jam dan 11 menit.
Ritme sirkadian, yang juga disebut "jam biologis" atau "jam tubuh", pada manusia dan hewan lainnya, mengatur banyak fungsi tubuh, termasuk makan, tidur, suhu tubuh dan produksi hormon.
Jam tubuh utama pada manusia dan mamalia lainnya terletak di nukleus (atau nukleus) suprachiasmatik (SCN), sepasang kelompok sel dalam hipotalamus di otak. Penghancuran SCN mengakibatkan tidak adanya ritme tidur/bangun yang teratur. SCN menerima informasi tentang cahaya melalui mata dan mengarahkan kelenjar pineal untuk melepaskan hormon melatonin di malam hari.
Beberapa orang memiliki gangguan tidur ritme sirkadian yang menyebabkan mereka tidur terlalu awal (Advanced sleep-phase syndrome, ASPS), terlalu larut (Delayed sleep-phase syndrome, DSPS) atau dalam beberapa kali serangan sepanjang siang dan malam (Irregular sleep-wake disorder). Gangguan tidur irama sirkadian yang paling buruk pada orang yang bisa melihat adalah gangguan tidur-bangun Non-24 jam (Non-24); irama "harian" mereka berlangsung selama 25 jam atau lebih, sehingga mereka tidur dan bangun satu jam atau lebih kemudian setiap hari. Orang tunanetra yang tidak bisa melihat cahaya sama sekali juga bisa mengalami Non-24, tetapi tidak terlalu serius dan biasanya bisa diobati.