Perilaku ini berbeda dari gagasan umum kita tentang gerak, seperti yang ditunjukkan oleh contoh ini:
George sedang berdiri di tanah di samping rel kereta api (rel kereta api). Ada kereta api yang melaju dengan kecepatan 30 mph (48 km/jam). George melempar bola bisbol dengan kecepatan 90 mph (140 km/jam) ke arah kereta api bergerak. Tom, seorang penumpang di kereta api, memiliki alat (seperti pistol radar) untuk mengukur kecepatan lemparan. Karena dia berada di dalam kereta, Tom sudah bergerak dengan kecepatan 30 mph (48 km/jam) searah dengan arah lemparan, sehingga Tom mengukur kecepatan bola hanya 60 mph (97 km/jam).
Dengan kata lain, kecepatan bola bisbol, seperti yang diukur oleh Tom di atas kereta api, bergantung pada kecepatan kereta api.
Dalam contoh di atas, kereta api bergerak dengan kecepatan 1/3 kecepatan bola, dan kecepatan bola yang diukur pada kereta api adalah 2/3 dari kecepatan lemparan yang diukur di tanah.
Sekarang, ulangi eksperimen dengan cahaya, bukan bola bisbol; yaitu, George memiliki senter, bukan melempar bola bisbol. George dan Tom sama-sama memiliki alat yang sama untuk mengukur kecepatan cahaya (bukannya pistol radar dalam contoh bisbol).
George sedang berdiri di tanah di samping rel kereta api. Ada kereta api yang melaju dengan kecepatan 1/3 kecepatan cahaya. George memancarkan sinar cahaya ke arah kereta api bergerak. George mengukur kecepatan cahaya 186.282 mil per detik (299.792 kilometer per detik). Tom, seorang penumpang di kereta, mengukur kecepatan berkas cahaya. Berapa kecepatan yang diukur Tom?
Secara intuitif, orang mungkin berpikir bahwa kecepatan cahaya dari senter yang diukur di kereta api seharusnya 2/3 kecepatan yang diukur di tanah, sama seperti kecepatan bola bisbol adalah 2/3. Tetapi pada kenyataannya, kecepatan yang diukur di kereta api adalah nilai penuh, 186.282 mil per detik (299.792 kilometer per detik), bukan 124.188 mil per detik (199.861 kilometer per detik).
Kedengarannya mustahil, tetapi itulah yang diukur. Sebagian alasannya adalah bahwa cahaya adalah energi yang bertindak dan bergerak dengan cara yang sangat berbeda dari materi atau benda padat seperti bola bisbol.
Persamaan Maxwell meramalkan kecepatan cahaya dan mengkonfirmasi gagasan Michael Faraday bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik (cara energi bergerak). Dari persamaan-persamaan ini, kita menemukan bahwa kecepatan cahaya terkait dengan kebalikan dari akar kuadrat dari permitivitas ruang bebas, ε0 , dan permeabilitas ruang bebas, μ0 :
c = 1 ε 0 μ 0 . {\displaystyle c={\frac {1}{\sqrt {\varepsilon _{0}\mu _{0}}}}\ . } 
Konsekuensi dari fakta ini adalah bahwa tidak ada yang bisa melaju lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Konsekuensi lainnya adalah bahwa untuk objek yang memiliki massa, tidak peduli berapa banyak energi yang digunakan untuk meningkatkan kecepatan suatu objek, objek tersebut akan semakin dekat dan semakin dekat, tetapi tidak akan pernah mencapai kecepatan cahaya. Ide-ide ini ditemukan pada awal 1900-an oleh Albert Einstein, yang karyanya benar-benar mengubah pemahaman kita tentang cahaya.
Indeks pembiasan suatu bahan yang jernih adalah rasio antara kecepatan cahaya dalam ruang hampa dan kecepatan cahaya dalam bahan tersebut.