Liga Bangsa-Bangsa (bahasa Prancis: La Société des Nations) adalah pendahulu Perserikatan Bangsa-Bangsa. Liga ini didirikan pada tahun 1920, setelah Perang Dunia I, tetapi gagal menjaga perdamaian selama Perang Dunia II. Liga ini memiliki Dewan kekuatan besar dan Majelis dari semua negara anggota.

Liga Bangsa-Bangsa dipikirkan oleh Woodrow Wilson, Presiden Amerika selama Perang Dunia Pertama. Liga Bangsa-Bangsa adalah sekelompok negara yang bekerja sama untuk menjaga perdamaian. Salah satu alasan kejatuhannya adalah, setelah pemungutan suara, publik Amerika menolak untuk bergabung. Liga tidak memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menegakkan aturan yang dibuatnya. Hal ini kemudian terbukti menjadi cacat fatal dalam struktur Liga.

Kelemahan lain dalam Liga adalah bahwa Liga tidak cukup representatif: tidak lebih dari 65 negara yang menjadi anggota pada waktu tertentu, dan kepentingan anggota-anggota terkemuka (terutama Inggris dan Prancis) sering melebihi kepentingan anggota-anggota yang lebih kecil dan kurang kuat.

Liga juga tidak memiliki pasukan sendiri, dan keputusan yang dibuatnya seringkali lambat. Misalnya, ketika Kekaisaran Jepang menginvasi Manchuria (Cina Timur Laut) pada tahun 1931, Liga membutuhkan waktu satu tahun penuh untuk membuat keputusan. Ketika keputusan itu datang, Jepang mengabaikannya. Ketika Italia menginvasi Abyssinia pada tahun 1935, Liga mengutuknya lebih cepat tetapi Italia hanya keluar dari Liga dan melanjutkan penaklukannya. Setelah bencana-bencana ini, Liga dianggap lemah dan tidak berdaya dan menghentikan operasinya pada tahun 1939.

Liga tidak gagal sepenuhnya: Liga ini telah mencegah beberapa konflik di Eropa pada tahun 1920-an dan bekerja keras untuk meringankan berbagai masalah kesehatan masyarakat dan sosial di seluruh dunia.

Pada tahun 1946, Liga Bangsa-Bangsa yang sudah tidak aktif secara resmi berakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan, dan hingga kini masih melakukan banyak hal yang sama seperti yang dilakukan Liga Bangsa-Bangsa.