Setelah bergabung dengan 'kelompok Tel Quel' yang didirikan oleh Sollers, Kristeva kebanyakan bekerja pada politik bahasa dan menjadi anggota aktif kelompok tersebut. Dia dilatih dalam psikoanalisis, dan mendapatkan gelarnya pada tahun 1979. Dalam beberapa hal, karyanya dapat dilihat sebagai upaya untuk mengadaptasi pendekatan psikoanalitik ke kritik poststrukturalis. Misalnya, pandangannya tentang subjek, dan konstruksinya memiliki beberapa kesamaan dengan Sigmund Freud dan Lacan. Namun, Kristeva menolak pemahaman apa pun tentang subjek dalam pengertian strukturalis. Sebaliknya, dia menggambarkan subjek selalu "dalam proses" atau "diadili". Dengan cara ini, dia berkontribusi pada kritik pascastrukturalis terhadap struktur esensial, sambil mempertahankan ajaran psikoanalisis. Dia melakukan perjalanan ke Cina pada tahun 1970-an dan kemudian menulis Tentang Wanita Cina (1977).
"Semiotik" dan "simbolik"
Salah satu kontribusi Kristeva yang paling penting adalah bahwa signifikasi terdiri dari dua elemen: simbolik dan semiotic. Penggunaan semiotic itu berbeda dengan disiplin semiotika yang didirikan oleh Ferdinand de Saussure. Augustine Perumalil menjelaskan bahwa "semiotic Kristeva berkaitan erat dengan pra-Oedipal infantil yang dirujuk dalam karya-karya Freud, Otto Rank, Melanie Klein, psikoanalisis Relasi Objek Inggris, dan tahap pra-cermin Lacan." Ini adalah bidang emosional yang terkait dengan naluri dalam celah dan suara bahasa daripada makna denotatif kata-kata. Menurut Birgit Schippers, semiotik dikaitkan dengan musik, puisi, ritme, dan apa yang tidak memiliki struktur dan makna. Hal ini terkait erat dengan "feminin" dan menunjukkan keadaan bayi pra-Tahap Cermin yang belum berkembang secara mandiri.
Dalam Tahap Cermin, anak belajar membedakan antara diri sendiri dan orang lain. Anak memulai proses berbagi makna budaya, yang dikenal sebagai simbolik. Dalam Desire in Language (1980), Kristeva menggambarkan simbolik sebagai perkembangan bahasa pada anak untuk menjadi "subjek yang berbicara" dan untuk mengembangkan rasa identitas yang terpisah dari ibu. Proses pemisahan ini dikenal sebagai abjeksi. Anak harus menolak dan menjauh dari ibu untuk masuk ke dunia bahasa, budaya, makna, dan sosial. Ranah bahasa ini disebut simbolik dan berbeda dengan semiotic yang diasosiasikan dengan maskulin, hukum, dan struktur. Kristeva berpikir berbeda dari Lacan. Dia berpikir bahwa bahkan setelah memasuki simbolik, subjek terus bergerak bolak-balik antara semiotik dan simbolik. Oleh karena itu, anak tidak membentuk identitas yang tetap. Subjek secara permanen "dalam proses". Karena anak-anak perempuan terus mengidentifikasi sampai tingkat tertentu dengan figur ibu, mereka terutama cenderung mempertahankan hubungan yang erat dengan semiotik. Identifikasi yang terus menerus dengan ibu ini dapat mengakibatkan apa yang Kristeva rujuk dalam Black Sun (1989) sebagai melankolia (depresi), karena anak-anak perempuan menolak dan mengidentifikasi diri dengan sosok ibu pada saat yang bersamaan.
Juga telah disarankan (misalnya, Creed, 1993) bahwa degradasi perempuan dan tubuh perempuan dalam budaya populer (dan khususnya, misalnya, dalam film slasher) muncul karena ancaman terhadap identitas yang ditimbulkan oleh tubuh ibu: itu adalah pengingat waktu yang dihabiskan dalam keadaan semiotik yang tidak terdiferensiasi, di mana seseorang tidak memiliki konsep diri atau identitas. Setelah merendahkan sang ibu, subjek mempertahankan daya tarik yang tidak disadari dengan semiotik, ingin bersatu kembali dengan sang ibu, sementara pada saat yang sama takut akan hilangnya identitas yang menyertainya. Film-film slasher dengan demikian menyediakan cara bagi penonton untuk secara aman memerankan kembali proses abjeksi dengan mengusir dan menghancurkan figur ibu.
Kristeva menggunakan gagasan Plato tentang chora, yang berarti "ruang ibu yang bergizi" (Schippers, 2011). Ide Kristeva tentang chora dapat berarti: referensi ke rahim, sebagai metafora untuk hubungan antara ibu dan anak, dan sebagai waktu sebelum Tahap Cermin.
Kristeva juga dikenal karena bekerja pada intertekstualitas.
Antropologi dan psikologi
Kristeva berpendapat bahwa antropologi dan psikologi, atau hubungan antara sosial dan subjek, tidak saling mewakili, melainkan mengikuti logika yang sama: kelangsungan hidup kelompok dan subjek. Lebih jauh lagi, dalam analisisnya tentang Oedipus, dia mengklaim bahwa subjek yang berbicara tidak dapat eksis dengan sendirinya, tetapi dia "berdiri di ambang batas yang rapuh seolah-olah terdampar karena demarkasi yang mustahil" (Powers of Horror, hal. 85).
Dalam perbandingannya antara dua disiplin ilmu, Kristeva mengklaim bahwa cara di mana seorang individu mengecualikan ibu yang hina sebagai sarana untuk membentuk identitas, adalah cara yang sama di mana masyarakat dibangun. Pada skala yang lebih luas, budaya mengecualikan ibu dan feminin, dan dengan ini muncul.[ perlu dijelaskan d]