Perang saudara Suriah, juga dikenal sebagai pemberontakan Suriah (bahasa Arab: الثورة السورية), atau krisis Suriah (bahasa Arab: الأزمة السورية), adalah konflik bersenjata yang sedang berlangsung di Suriah. Pemerintah Ba'ath berperang melawan orang-orang yang ingin menghapus pemerintahan ini. Konflik dimulai pada 15 Maret 2011, dengan demonstrasi. Demonstrasi ini seperti demonstrasi yang diadakan di negara-negara Arab lainnya, yang disebut Arab Spring. Para pengunjuk rasa di Suriah menuntut agar Presiden Bashar al-Assad mengundurkan diri. Keluarganya telah memegang jabatan presiden di Suriah sejak 1971. Banyak pendukung Assad adalah Syiah sementara mayoritas oposisi adalah Sunni.
Pada bulan April 2011, Tentara Suriah menembaki para demonstran di seluruh negeri. Setelah berbulan-bulan pertempuran militer, protes berubah menjadi pemberontakan bersenjata. Pasukan oposisi adalah tentara yang telah meninggalkan tentara Suriah dan sukarelawan sipil. Pejuang oposisi tidak memiliki kepemimpinan pusat. Pertempuran terjadi di banyak kota di seluruh negeri. Pada akhir 2011, kelompok Islamis Front al-Nusra mulai memiliki peran yang lebih besar dalam pasukan. Pada tahun 2013 Hizbullah memasuki perang untuk mendukung tentara Suriah.
Pemerintah Suriah, menerima dukungan militer dari Rusia dan Iran. Qatar dan Arab Saudi memberikan senjata kepada para pemberontak. Pada bulan Juli 2013, pemerintah Suriah menguasai sekitar 30-40 persen wilayah negara itu dan 60 persen dari populasi Suriah. Laporan PBB tahun 2012 mengatakan bahwa pertempuran terjadi antara sekte atau kelompok yang berbeda. Pertempuran itu antara kelompok Syiah melawan kelompok pemberontak Sunni,.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 100.000 orang terbunuh pada bulan Juni 2013. Sebanyak 120.000 orang terbunuh pada bulan September 2013. Selain itu, puluhan ribu pengunjuk rasa dimasukkan ke dalam penjara. Ada laporan bahwa pemerintah Suriah menyiksa para tahanan. Organisasi-organisasi internasional menuduh pasukan pemerintah dan oposisi melanggar hak asasi manusia. PBB mengatakan sebagian besar pelanggaran dilakukan oleh pemerintah Suriah. Lebih dari 4 juta warga Suriah terpaksa pindah karena pertempuran dan lebih dari 2 juta pengungsi meninggalkan negara mereka. Jutaan warga masih kekurangan listrik, makanan dan air minum.
Pada tahun 2013, rezim Suriah menggunakan senjata kimia untuk melawan pemberontak. Hal ini menarik perhatian dari komunitas internasional. Pemerintah dilaporkan menyerahkan senjata kimia mereka pada tahun 2014 tetapi melanjutkan perang menggunakan senjata lain. Kemudian pada tahun 2014, Negara Islam Irak dan Levant menjadi tentara lawan yang paling kuat, mengendalikan lebih banyak wilayah daripada pemerintah Suriah sendiri.
Dengan semua yang terjadi di Suriah, 5,6 juta warga Suriah terpaksa mengungsi ke negara lain.