Brahmajala Sutta adalah Sutta pertama dari 34 Sutta di dalam Digha Nikaya (Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha). Namanya berasal dari 'brahma' (kebijaksanaan sempurna) dan 'jala' (jaring-yang-mencakup-semua-pandangan). Sutta ini juga disebut 'Atthajala' (Jaring dari Esensi), Dhammajala, (Jaring dari Dhamma), Ditthijala (Jaring dari Pandangan-pandangan), Anuttarasangama Vijaya (Kemenangan yang Tak Tertandingi dalam Pertempuran).
Sutta ini membahas dua topik utama: penjabaran dari Sepuluh Sila (Cula-sila), Sila Pertengahan (Majjhima-sila), dan Sila Agung (Maha-sila). Cula-sila berurusan dengan Sepuluh Sila yang harus dipraktikkan oleh umat Buddha yang taat, sementara Majjhima-sila memberikan penjelasan rinci tentang praktik sila keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilan, bersama dengan praktik pelestarian tanaman dan etika berbicara.
Bagian kedua dan ketiga dari Sutta membahas 62 kepercayaan (ditthi) atau "pandangan" yang dipegang oleh para pertapa di dataran Gangga (di tempat yang sekarang menjadi India) selama kehidupan Buddha. Ini dibagi menjadi: 18 kepercayaan yang berhubungan dengan masa lalu (pubbantanuditthino), dan 44 kepercayaan tentang masa depan (aparantakappika).
Banyak dari kepercayaan ini masih relevan di dunia modern dan oleh sebab itu sutta memberikan banyak informasi kepada para sarjana Buddhis untuk direnungkan tentang ajaran Buddha.
Penjabaran dari kepercayaan-kepercayaan ini sangat rinci, dengan fokus pada bagaimana kepercayaan-kepercayaan (keyakinan-keyakinan) ini muncul dan bagaimana mereka dijelaskan dan dinyatakan. Penjelasan diakhiri dengan pernyataan Buddha tentang bahaya dari kemelekatan pada keyakinan-keyakinan ini, karena mereka masih dipengaruhi oleh keinginan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha) sehingga para pengikutnya yang setia tidak akan berakhir pada pembebasan akhir tetapi masih berada dalam siklus samsara. Para penganut kepercayaan ini diibaratkan seperti ikan kecil di kolam yang akan ditangkap oleh jaring halus tidak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melarikan diri, sementara mereka yang melihat kenyataan sebagaimana adanya berada di luar jaring samsara.